Skip to main content

Long Distance Ramadhan (LDR)

Bener kata Dilan, jangan rindu berat. Ngerasa gak sih LDR selama Ramadhan dengan keluarga itu lebih berat daripada LDR pas pacaran? Hahaha sok iye mentang-mentang udah nikah yaaa. 2 tahun belakangan ini semenjak negara corona menyerang, kegiatan yang biasanya hanya pas Ramadhan bisa dilakukan seperti buka puasa bersama dan solat tarawih di masjid tuh jadi sulit ya dilakukan, karena aku sendiri gamau merugikan orang-orang terdekatku. Terlebih lagi larangan mudik, yang membuat suamiku gak bisa pulang ke kampung halamannya pas lebaran. Sedih sih pasti, alhamdulillahnya rumah orang tuaku masih dekat dan tidak ada larangan mudik dari tangsel ke jaksel kan ya hahaha jadi lumayan gaperlu masak ketupat, sayur, rendang, dan semur sendiri hahaha. Kok gaada opor? Iya, karena mamaku orang betawi jadinya dari dulu gapernah tuh bikin opor ayam selama lebaran yang ada semur hihihi, kalau di rumah kalian ada hidangan apa aja?

Sebagai kuncen Jakarta selama lebaran sebelum nikah, alhamdulillah aku akhirnya ngerasain mudik juga setelah menikah, ya walaupun deket sih ke sukabumi doang, bukan yang sampe timur jawa atau beda pulau hahaha, tapi masih inget banget pengalaman pertama mudik sooooo excited hahaha karena akan ada pengalaman baru juga lebaran di kampung suami hehe.

Ternyata ya bener aja walaupun gak beda jauh dengan kebiasaan di Jakarta, seperti sehabis solat ied, keliling untuk silaturahmi ke rumah tetangga, makanan yang disajikan selama lebaran pun beda dengan di Jakarta. Di Sukabumi ada opor gaes wkwkwk akhirnya ya makan opor pas lebaran kejadian juga 🀣🀣🀣 dan yang pasti bisa dengan bangga pasang status di media sosial lagi mudik dong, karena biasanya pasang status foto jalanan jakarta yang sepi ditinggal para pemudik hahahha.

Selama pandemi ini juga jadi berimbas ke anakku yang gak kenal sama sepupu dan saudara-saudara lainnya karena pas sebelum pandemi, dia masih kecil banget jadi belom inget dan hafal sama keluarga yang ditemui. Kasian juga sih ngeliatnya jadi kaya anti sosial nanti takutnya. Kakakku pun yang saat ini bekerja di medan jadi gabisa pulang ke Jakarta karena larangan mudik, sudah 2 tahun dia lebaran sendiri di kampung orang, sayangnya dia memang belum menikah. Kalau ada kenalan laki-laki yang belum menikah juga boleh yah hubungi aku hahaha siapa tau berjodoh dengan kakakku hihi.

Semoga lebaran tahun depan kita udah gak LDR lagi yaah. Oia, mohon maaf lahir batin juga yaaa kepada para pembaca setia blog aku hehe, semoga kita bisa ketemu lagi di bulan Ramadhan tahun depan dengan keadaan yang lebih baik lagi. Amiiiinnnnn

Comments

  1. waaah, kita sama2 jawa timur dan sukabumi ternyata 🀩🀩
    minal aidzin wal faidzin mom..

    ReplyDelete
  2. Maaf maaf lahir batin mom.. aduh jadi kangen berat buat pulkam ke jatim...huhuhu

    ReplyDelete
  3. Semangat pejuang LDM.
    Smoga taun depan busa lebaran di tempat yg sama

    ReplyDelete
  4. Akhirnya ketemu oporJugaaa yaaak.. Wkwkwkwkkw..setelah sekian lama lebaranakan semur πŸ˜‚πŸ˜‚..

    ReplyDelete
  5. Ya Allah ngga kebayang LDM.. Minal aidin walfaidzin juga yaa.. Aamiin buat doanyaa

    ReplyDelete
  6. Mohon maaf lahir dan batin juga hehe

    Sri lestari

    ReplyDelete
  7. Wah sama bun, anakku juga belum banyak kenal sanak saudara, sedih yac semoga tahun depan bisa lebaran ketemu sanak saudara.

    ReplyDelete
  8. Monmaap, gue juga warga sukabumi mak🀣🀣🀣 Maaf lahir bathin yaaww

    ReplyDelete
  9. semoga tahun depan keadaan sudah kembali normal yah,,, dan kita bisa segera berkumpul bareng keluarga besar

    ReplyDelete
  10. Smoga pandemi lekas berlalu dan hilang dari indonesa ya, jd bisa merasakan mudik dan gk LDR lagi krn prnh LDR jg, gk enakπŸ˜‚

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Krisis Identitas Diri

Hai kamu, iya kamu yang lagi membaca tulisan ini. Bolehkah aku bertanya padamu, siapa kamu? Siapa namamu? Apa kabarmu? Apakah kamu bahagia? Apa cita-citamu? Apa tujuan hidupmu? Rasanya terlalu banyak pertanyaan yang ku sampaikan. Apakah kamu bisa menjawab semua pertanyaan itu? Jika aku yang ditanya olehmu, sepertinya belum tentu aku bisa menjawabnya. Saat malam, ah sepertinya siang juga pernah bertanya kepadaku mengenai hal ini, aku terkadang hanya bisa terdiam sejenak, kembali menanyakan diriku juga, siapa sebenarnya aku? Apa tujuan hidupku? Apakah aku sudah bahagia? Dianugerahi title seorang ibu, istri, dan wanita sendiri sangat aku syukuri, walaupun terkadang title itu membuat aku kebingungan akan jati diriku sendiri. Apakah aku seorang ibu yang harus merawat anakku, atau seorang istri yang harus mendampingi suami sampai melupakan kebutuhanku sendiri sebagai seorang wanita dan manusia ? Bahkan, aku pun juga harus ingat bahwa aku adalah seorang anak yang harus membahagiakan ora...

Tummypedia - 3 Langkah Hebat Dukung Kesehatan Perut Anak

Halo mommies, apa kabarnya? Semoga masih waras menemani kegiatan si kecil selama pandemi ini ya. Apakah si kecil sudah buang air besar hari ini? Jangan lupa selalu dipantau ya mom, karena pencernaan itu ibarat otak kedua bagi manusia.  Apakah mom sudah tahu kriteria pencernaan yang baik? Kalau belum aku mau berbagi sedikit ilmu dari webinar yang diadakan @bebeclub Bersama dr. Gia Pratama (Pemerhati Kesehatan Anak) mengenai mitos-mitos masalah perut si kecil yang sering salah, kriteria pencernaan yang baik, serta tips untuk menjaga kesehatan penceraan anak. Aku coba sharing mengenai kriteria pencernaan yang baik dulu ya mom. Menurut dr. Gia, berikut merupakan beberapa kriteria pencernaan yang baik : Frekuensi buang air besar teratur, 1-2 hari sekali, jika sudah lebih dari 4x maka terindikasi diare, 2-3 hari sekali terindikasi konstipasi. Konsistensi feses tidak keras dan tidak encer. Buang gas dan sendawa. Berat badan dan mood anak stabil dan terjaga dengan baik. Kulitnya seh...

Speech Delay

Hai mommies, kembali lagi dengan ceritaku yang gak jauh-jauh dari anak ya hahaha, semoga belum bosen bacanya. Kali ini, aku mau sedikit cerita mengenai pengalamanku mempunyai anak yang didiagnosis oleh dokter mengalami speech delay. Apa sih speech delay itu? Speech delay yang memiliki artian keterlambatan bicara pada anak. Keterlambatan bicara ini dapat diukur berdasarkan usianya. Keterlambatan bicara ini bisa dideteksi mulai usia 2 bulan, jika anak tidak mengeluarkan suara, bisa jadi kedepannya anak tersebut akan mengalami keterlambatan bicara.  Kasus yang terjadi di anakku ini mulai aku deteksi ketika dia berumur 18 bulan. Disaat seharusnya di umurnya 18 bulan sudah bisa mengucapkan 1-2 kata secara jelas seperti "mama" dan "papa" , anakku masih belum bisa melakukannya. Sebagai acuan tumbuh kembang anakku, aku menggunakan tabel denver ii, mungkin nanti aku akan bahas lebih lengkap lagi mengenai tabel denver ini ya (sekarang kita kembali fokus ke speech delay haha)....